Demokrasi=Suara Terbanyak
Pemilihan rektor (Pilrek) Universitas Tanjungpura telah melewati pemungutan suara di tingkat dosen. Hasilnya terpilih tiga besar calon rektor yakni Chairil Effendi (259 suara), Maswardi M Amin (119 suara) dan Alamsyah (114 suara). Babak selanjutnya, tiga nama tersebut dibahas dalam rapat senat Untan.
Banyak kalangan menilai proses Pilrek tersebut telah berjalan demokratis dengan tolok ukur besarnya jumlah partisipasi pemilih karena hanya sedikit saja dosen yang tidak menyalurkan hak pilihnya. Kenyataan ini tentu saja menguatkan legitimasi kampus sebagai kawah candradimuka pendidikan— yang didalamnya juga sarat dengan muatan demokrasi tentang bagaimana menghormati perbedaan pendapat, disiplin ilmu hingga keunggulan SDM masing-masing dan lain-lain.
Pilrek paling tidak mereview demokrasi dalam tataran teoritis ke dalam ranah praktis sehingga bisa diketahui, apakah lembaga pendidikan berikut orang-orangnya didalam mampu memaknai hakikat ‘benda’ yang bernama demokrasi itu. Di tingkat dosen sudah tidak ada masalah, tetapi di tingkat senat (mungkin) sedikit masalah dimana terdapat 47 anggota Senat Untan yang akan memberikan pertimbangan terhadap 3 besar calon rektor tersebut sebelum dikirim ke presiden.
Kegalauan sementara ini tertuju pada sikap apa yang keluar dari rapat senat itu. Bagaimana jadinya jika suara senat ternyata tidak berbanding lurus dengan hasil pemungutan suara. Betulkah premis demokrasi sama dengan suara terbanyak, sebab vox populi vox dei bisa dipersepsikan: suara dosen sama dengan suara Tuhan.***


0 Comments:
Post a Comment
<< Home