jurnalis kalimantan barat

Fakta adalah kesucian yang tak bisa dibohongi. Mengungkap fakta sebagai sebuah keharusan terkadang memerlukan pengorbanan meskipun mendapat resiko cukup besar. Ini hanya sekedar buah pikiran yang mungkin dapat bermanfaat.

Wednesday, November 29, 2006

Duh.. Nasibmu Guru

Baru saja berlalu peringatan hari guru 25 November. Seperti peringatan setiap tahunnya di Kalbar, hanya sebatas seremonial saja diisi upacara bendera. Para pendidik mulai dari tingkat sekolah dasar, SLTP hingga SLTA inipun kembali menjalankan rutinitasnya mengajar di kelas. Tanggungjawab yang diemban para guru tidaklah ringan sebab berpengaruh pada kualitas anak didik dan kelangsungan sumber daya manusia.
Di pundak guru terpikul amanah sangat besar karena bukan saja soal transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga mengajarkan tentang moral, sikap, etika dan bahkan agama dengan segala pengertiannya yang menyeluruh. Guru dalam konotasi orang yang harus digugu (diikuti) dan ditiru menjadikan sosok manusia yang satu ini harus berhati-hati dalam segala sikap dan tindakan.
Belum lagi dituntut memiliki wawasan dan kreativitas agar sanggup menghadapi muridnya dengan beragam karakter. Guru juga harus paham ilmu jiwa anak (psikologi) dus materi pengajaran formal. Jika tidak, bersiap-siaplah memiliki murid yang minim penguasaan ilmu pengetahuan. Atau bisa jadi murid ternyata lebih pintar dari gurunya karena memperoleh informasi pengetahuan bukan hanya di bangku sekolah.
Wajar apabila para guru wajib ikut tes kompetensi guna meningkatkan kemampuannya dalam hal penguasaan materi pelajaran yang hendak disampaikan kepada muridnya. Jika mau jujur, tuntutan profesi sebagai guru sangat tinggi tetapi berbanding terbalik dengan tingkat kesejahteraan. Terlebih guru yang berada di daerah terisolir atau pedalaman yang serba minim sarana dan prasarana. Untuk menjangkau ke sekolah setiap hari saja memerlukan waktu berjam-jam karena terhambat akses jalan.
Tak mengherankan jika mendapati seorang guru yang bekerja sambilan di luar jam sekolah. Ada pula yang memilih meninggalkan pekerjaannya sebagai guru karena pekerjaan lain cukup menjanjikan. Hanya guru yang ikhlas mengabdi dan mencintai profesi saja dapat bertahan andai perhatian pemerintah terhadap guru masih tetap seperti sekarang ini.
Sekelumit gambaran tersebut hanya sebagian kecil saja dari kondisi guru di Kalbar. Belum lagi soal beban kerja guru yang sering berlipat ganda karena harus menangani beberapa kelas dalam setiap harinya. Di Sambas, Sanggau, Ketapang dan daerah perbatasan masih ditemukan pemandangan betapa sibuknya guru menangani proses belajar-mengajar.
Lontaran Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persada Khatulistiwa Sintang Prof Dr Hamid Darmadi MPd.Sc yang menyatakan Kalbar kekurangan guru memang cukup mencengangkan. Jumlah tenaga guru di Kalbar belum memadai. Kalbar masih memerlukan 8.023 guru kelas SD, 2.429 guru olahraga SD, 318 guru PKN SMP, 569 guru bahasa Indonesia SMP, 522 guru matematika SMP, 502 guru biologi, 368 guru sejarah, 421 guru geografi, 311 guru ekonomi koperasi SMP, 430 guru Penjaskes SMP, 365 guru bahasa Inggris SMP, dan 466 guru fisika SMP.
Sajian data itu tentu bukan pepesan kosong belaka karena beberapa kecenderungan lulusan universitas atau perguruan tinggi sedikit yang berminat menjadi guru. Penyebab lain, untuk menjadi guru tidaklah sembarangan. Walaupun sudah menyandang predikat sarjana juga harus mengantongi akta IV sebagai pengakuan formal tanda memperoleh kewenangan untuk mengajar.
Data kekurangan guru di Kalbar itu bisa jadi profesi guru mulai tidak populer dan tak diminati. Sedangkan guru-guru yang telah mengabdi puluhan tahun sudah memasuki masa pensiun, sementara tidak ada penerus dari generasi dibawahnya. Pertanyaannya, kemana lulusan universitas dan perguruan tinggi di Kalbar. Padahal kalau dihitung-hitung dalam setiap enam bulan sekali mengeluarkan ratusan sarjana. Kondisi ini tentu tak bisa dibiarkan berlarut-larut dan perlu segera dicarikan jalan keluarnya demi kelangsungan pendidikan di Kalbar. Seiring perkembangan informasi dan teknologi di segala bidang, cikal bakal pendidik mutlak disiapkan institusi pendidikan tinggi.
Jangan hanya bisa menuntut pendidik agar meningkatkan kemampuan atau seabrek tuntutan pendidikan formal—karena guru harus sarjana—tetapi juga dipertimbangkan, apa yang telah dibuat pemerintah untuk memberikan stimulus bagi para guru di Kalbar. Sudahkan APBN atau APBD menganggarkan minimal 20 persen untuk pendidikan seperti amanah perundangan. Kesannya perlakuan terhadap guru hanya punishment saja tanpa ada reward.
Alih-alih mewujudkan kesejahteraan memadai atau memeberikan layanan kesehatan, misalnya membuatkan rumah sakit guru seperti halnya ada rumah sakit tentara dan rumah sakit polisi. Semoga ragam persoalan guru dan kurangnya jumlah guru di Kalbar mendapat perhatian, jika tidak akan ada kemerosotan SDM sebab indek pembangunan manusia (IPM) dapat dipastikan akan menurun.***

2 Comments:

  • At 6:13 PM, Anonymous Anonymous said…

    saya seorang sarjana pendidikan jurusan biologi dari perguruan tinggi negeri di jawa tengah, saya ingin menjadi guru di pontianak karena kakak saya ada di sana. Kalau ada informasi lowongn guru biologi di pontianak telp saja no berikut ini 081393134473

     
  • At 6:14 PM, Anonymous Anonymous said…

    saya seorang sarjana pendidikan jurusan biologi dari perguruan tinggi negeri di jawa tengah, saya ingin menjadi guru di pontianak karena kakak saya ada di sana. Kalau ada informasi lowongn guru biologi di pontianak telp saja no berikut ini 081393134473

     

Post a Comment

<< Home