Pengangguran dan Hujan Batu
Mobilitas warga Kalbar yang bekerja ke Malaysia dengan cara resmi atau ilegal masih terus berlangsung. Akses menuju negeri jiran itu semakin hari semakin gampang saja, terlebih dengan dibukanya border yang menghubungkan kedua negara. Warga Kalbar bahkan sebelum dibuka border menempuh jalan tikus menyeruak masuk via hutan.
Kalbar mempunyai 1 border resmi yakni di Sanggau yang menghubungkan Entikong-Tebedu. Pada 2007 segera dibuka Badau (Kapuas Hulu) -Lubuk Antu, Aruk (Sambas)-Biawak. Akan disusul border Jagoi Babang (Bengkayang) dan Senaning (Sintang)-Sri Aman. Dapat dibayangkan jika pembukaan border yang terintegrasi dalam program border development center (BDC) itu terwujud. Aktivitas hilir mudik manusia dan barang pada kawasan itu akan meningkat yang pada gilirannya menggerakan sektor ekonomi di perbatasan.
Namun kondisi sekarang BDC masih dalam proses karena bukan semata tugas pemerintah daerah melainkan juga pemerintah pusat. Krisis ekonomi berkepanjangan menyebabkan warga Kalbar banyak mengadu nasib di Malaysia. Itu telah menjadi pilihan untuk mempertahankan hidup karena di daerah sendiri tidak begitu menjanjikan penghidupan layak. Minimnya ketersediaan lapangan kerja di daerah sendiri merupakan salahsatu pemicu mobilitas warga Kalbar untuk bekerja di negara orang.
Pasca industri perkayuan collaps disusul sumber daya hutan berupa kayu yang terus menipis karena dieksplorasi, menambah daftar panjang jumlah pengangguran di Kalbar. Bagi yang sanggup bertahan, mungkin dapat memperoleh pekerjaan di sektor informal atau mungkin membuka usaha kecil-kecilan. Namun bagi yang tak memiliki modal dan minus jiwa enterpreneur, tentu memilih bekerja di perusahaan para pemilik modal walaupun harus berkompetisi ketat. Namun bagi yang terlanjur menyerah maka pilihannya adalah menjadi pengangguran terbuka.
Sajian data Biro Pusat Statistik (BPS) Kalbar per 4 September 2006 cukup melegakan karena angka tingkat pengangguran terbuka (TPT) sedikit menurun. Dari 171.724 orang pada tahun 2005 menjadi 139.054 orang di tahun 2006. Mengapa angka tersebut bisa menurun, apakah dipengaruhi mobilitas warga yang ke luar Kalbar termasuk menjadi TKI di Malaysia? Mungkinkah pertanda dunia usaha di Kalbar sudah menggeliat dan secara perlahan mendongkrak sektor riil.
Gubernur Kalbar pernah menjelaskan TPT disebabkan dua faktor; pertama, ketidakseimbangan antara persediaan dan kebutuhan tenaga kerja dari sisi kualitas maupun kuantitas yang dibutuhkan pasar kerja. Kedua, ketidakseimbangan akibat kesenjangan informasi antara perusahaan pengguna dan pencari kerja sehingga sulit mendapatkan tenaga kerja yang sesuai kualifikasi dan jabatan tersedia. Lamgkah Pemprov soal TPT itu menggelar pameran bursa kerja yang dimaksudkan sebagai mediasi pemerintah daerah untuk percepatan pertemuan antara pencari kerja dan pengguna tenaga kerja.
Penyelesaiannya tentu bukan hanya itu saja sebab yang paling penting adalah pembukaan lapangan kerja. Ditambah perlunya aksi nyata Pemprov dalam hal kebijakan dan pengembangan sektor riil ekonomi masyarakat. Tetapi sejauh mana itu telah dilakukan dengan kondisi lesunya iklim dunia usaha di Kalbar dan investasi dari luar yang baru sebatas perjanjian nota kesepahaman.
Jika kenyataannya demikian maka sangat diharapkan sebuah kebijakan untuk memperhatikan sektor riil agar tak dibiarkan berjalan sendiri tanpa stimulus. Kecenderungan sekarang, pertumbuhan ekonomi Kalbar yang berkisar 4,23 persen ternyata didominasi sektor finansial. Hal ini yang berimbas pada persoalan pengangguran terbuka dan kemiskinan.
Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Kalbar 2007 yang sedang digodok saat ini menyentuh angka Rp 1,071 triliun. Semoga dari anggaran tersebut setelah disyahkan nantinya dapat mengakomodir kebijakan guna menggairahkan sektor riil ekonomi masyarakat, jumlah pengangguran pun dapat terus menurun. Para pencari kerja tak mesti harus bersusah payah ke negara orang, sekaligus diharapkan dapat membalikan pameo; hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Kalbar sekarang harus bisa membuat hujan emas di negerinya sendiri.***
Mobilitas warga Kalbar yang bekerja ke Malaysia dengan cara resmi atau ilegal masih terus berlangsung. Akses menuju negeri jiran itu semakin hari semakin gampang saja, terlebih dengan dibukanya border yang menghubungkan kedua negara. Warga Kalbar bahkan sebelum dibuka border menempuh jalan tikus menyeruak masuk via hutan.
Kalbar mempunyai 1 border resmi yakni di Sanggau yang menghubungkan Entikong-Tebedu. Pada 2007 segera dibuka Badau (Kapuas Hulu) -Lubuk Antu, Aruk (Sambas)-Biawak. Akan disusul border Jagoi Babang (Bengkayang) dan Senaning (Sintang)-Sri Aman. Dapat dibayangkan jika pembukaan border yang terintegrasi dalam program border development center (BDC) itu terwujud. Aktivitas hilir mudik manusia dan barang pada kawasan itu akan meningkat yang pada gilirannya menggerakan sektor ekonomi di perbatasan.
Namun kondisi sekarang BDC masih dalam proses karena bukan semata tugas pemerintah daerah melainkan juga pemerintah pusat. Krisis ekonomi berkepanjangan menyebabkan warga Kalbar banyak mengadu nasib di Malaysia. Itu telah menjadi pilihan untuk mempertahankan hidup karena di daerah sendiri tidak begitu menjanjikan penghidupan layak. Minimnya ketersediaan lapangan kerja di daerah sendiri merupakan salahsatu pemicu mobilitas warga Kalbar untuk bekerja di negara orang.
Pasca industri perkayuan collaps disusul sumber daya hutan berupa kayu yang terus menipis karena dieksplorasi, menambah daftar panjang jumlah pengangguran di Kalbar. Bagi yang sanggup bertahan, mungkin dapat memperoleh pekerjaan di sektor informal atau mungkin membuka usaha kecil-kecilan. Namun bagi yang tak memiliki modal dan minus jiwa enterpreneur, tentu memilih bekerja di perusahaan para pemilik modal walaupun harus berkompetisi ketat. Namun bagi yang terlanjur menyerah maka pilihannya adalah menjadi pengangguran terbuka.
Sajian data Biro Pusat Statistik (BPS) Kalbar per 4 September 2006 cukup melegakan karena angka tingkat pengangguran terbuka (TPT) sedikit menurun. Dari 171.724 orang pada tahun 2005 menjadi 139.054 orang di tahun 2006. Mengapa angka tersebut bisa menurun, apakah dipengaruhi mobilitas warga yang ke luar Kalbar termasuk menjadi TKI di Malaysia? Mungkinkah pertanda dunia usaha di Kalbar sudah menggeliat dan secara perlahan mendongkrak sektor riil.
Gubernur Kalbar pernah menjelaskan TPT disebabkan dua faktor; pertama, ketidakseimbangan antara persediaan dan kebutuhan tenaga kerja dari sisi kualitas maupun kuantitas yang dibutuhkan pasar kerja. Kedua, ketidakseimbangan akibat kesenjangan informasi antara perusahaan pengguna dan pencari kerja sehingga sulit mendapatkan tenaga kerja yang sesuai kualifikasi dan jabatan tersedia. Lamgkah Pemprov soal TPT itu menggelar pameran bursa kerja yang dimaksudkan sebagai mediasi pemerintah daerah untuk percepatan pertemuan antara pencari kerja dan pengguna tenaga kerja.
Penyelesaiannya tentu bukan hanya itu saja sebab yang paling penting adalah pembukaan lapangan kerja. Ditambah perlunya aksi nyata Pemprov dalam hal kebijakan dan pengembangan sektor riil ekonomi masyarakat. Tetapi sejauh mana itu telah dilakukan dengan kondisi lesunya iklim dunia usaha di Kalbar dan investasi dari luar yang baru sebatas perjanjian nota kesepahaman.
Jika kenyataannya demikian maka sangat diharapkan sebuah kebijakan untuk memperhatikan sektor riil agar tak dibiarkan berjalan sendiri tanpa stimulus. Kecenderungan sekarang, pertumbuhan ekonomi Kalbar yang berkisar 4,23 persen ternyata didominasi sektor finansial. Hal ini yang berimbas pada persoalan pengangguran terbuka dan kemiskinan.
Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Kalbar 2007 yang sedang digodok saat ini menyentuh angka Rp 1,071 triliun. Semoga dari anggaran tersebut setelah disyahkan nantinya dapat mengakomodir kebijakan guna menggairahkan sektor riil ekonomi masyarakat, jumlah pengangguran pun dapat terus menurun. Para pencari kerja tak mesti harus bersusah payah ke negara orang, sekaligus diharapkan dapat membalikan pameo; hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Kalbar sekarang harus bisa membuat hujan emas di negerinya sendiri.***


0 Comments:
Post a Comment
<< Home