Penyakit Endemis dan Pergantian Musim
*Oleh R. Rido Ibnu Syahrie
Tersisa empat tahun kita segera memasuki masa Indonesia Sehat 2010, slogan ini begitu kerap terdengar karena menjadi sasaran Dinas Kesehatan di setiap daerah sebagai ujung tombak pencapaian program. Bidang kesehatan memang memiliki cakupan sangat luas dan menyeluruh sehingga mengharuskan semua aspek berjalan terintegrasi.
Selama ini, kesehatan hanya dipandang sebelah mata jika penyakit atau wabah belum datang. Cara pandang tersebut jelas harus digeser karena kesehatan harus dilihat sebagai kebutuhan bahkan trend. Namun yang terjadi sekarang kesehatan menjadi masalah yang pelik tanpa didukung aksi nyata pelaksanaan program. Sikap pesimis akan muncul terhadap kesiapan menyongsong Indonesia Sehat 2010.
Hal itu lantaran kompleksitas masalah tanpa penanganan yang komplek pula. Buktinya dalam menangani penyakit endemis akibat pergantian musim, kita belum dapat mengantisipasi. Padahal kedatangan musim dapat diprediksi sebelumnya dan sangat jarang meleset. Kapan musim hujan atau kemarau seharusnya diiringi strategi nyata agar tidak banyak jatuh orang sakit. Bukankah pencegahan lebih baik daripada pengobatan?
Tetapi apa yang terjadi, Kalbar baru saja diserang wabah DBD dan DHF sebagai imbas dari musim kemarau. Ditambah lagi infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) begitu membeludak di setiap klinik dan rumah sakit. Itu juga akibat kemarau yang merembet pada kebakaran hutan dan lahan.
Kini, kabut asap semakin berkurang seiring angin yang mulai kencang bertiup disertai volume curah hujan yang setiap harinya semakin meningkat.
Informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Bandara Supadio, curah hujan di wilayah Kalbar sudah hampir merata. Volume curah hujan akan lebih banyak turun di wilayah utara, barat dan timur Kalbar. Sementara untuk wilayah selatan masih kurang dan dalam waktu dekat akan sama dengan wilayah lainnya.Dalam prediksi BMG juga diperoleh keterangan bahwa pada November dan Desember bahkan banyak daerah yang akan terkena banjir.
Yang perlu diantisipasi tentu saja dampak dari pergantian musim kemarau ke musim penghujan. Biasanya penyakit endemis juga akan muncul seperti diare, disentri dan serangan nyamuk penyebab malaria dan demam berdarah. Lagi-lagi kita dihadapkan pada persoalan yang cukup besar jika beberapa penyakit yang mewabah di musim hujan ini menyerang. Pertanda itu sudah tampak ditandai dengan banyaknya pasien penyakit endemis itu di beberapa rumah sakit.(*wartawan di harian Equator Pontianak)
*Oleh R. Rido Ibnu Syahrie
Tersisa empat tahun kita segera memasuki masa Indonesia Sehat 2010, slogan ini begitu kerap terdengar karena menjadi sasaran Dinas Kesehatan di setiap daerah sebagai ujung tombak pencapaian program. Bidang kesehatan memang memiliki cakupan sangat luas dan menyeluruh sehingga mengharuskan semua aspek berjalan terintegrasi.
Selama ini, kesehatan hanya dipandang sebelah mata jika penyakit atau wabah belum datang. Cara pandang tersebut jelas harus digeser karena kesehatan harus dilihat sebagai kebutuhan bahkan trend. Namun yang terjadi sekarang kesehatan menjadi masalah yang pelik tanpa didukung aksi nyata pelaksanaan program. Sikap pesimis akan muncul terhadap kesiapan menyongsong Indonesia Sehat 2010.
Hal itu lantaran kompleksitas masalah tanpa penanganan yang komplek pula. Buktinya dalam menangani penyakit endemis akibat pergantian musim, kita belum dapat mengantisipasi. Padahal kedatangan musim dapat diprediksi sebelumnya dan sangat jarang meleset. Kapan musim hujan atau kemarau seharusnya diiringi strategi nyata agar tidak banyak jatuh orang sakit. Bukankah pencegahan lebih baik daripada pengobatan?
Tetapi apa yang terjadi, Kalbar baru saja diserang wabah DBD dan DHF sebagai imbas dari musim kemarau. Ditambah lagi infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) begitu membeludak di setiap klinik dan rumah sakit. Itu juga akibat kemarau yang merembet pada kebakaran hutan dan lahan.
Kini, kabut asap semakin berkurang seiring angin yang mulai kencang bertiup disertai volume curah hujan yang setiap harinya semakin meningkat.
Informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Bandara Supadio, curah hujan di wilayah Kalbar sudah hampir merata. Volume curah hujan akan lebih banyak turun di wilayah utara, barat dan timur Kalbar. Sementara untuk wilayah selatan masih kurang dan dalam waktu dekat akan sama dengan wilayah lainnya.Dalam prediksi BMG juga diperoleh keterangan bahwa pada November dan Desember bahkan banyak daerah yang akan terkena banjir.
Yang perlu diantisipasi tentu saja dampak dari pergantian musim kemarau ke musim penghujan. Biasanya penyakit endemis juga akan muncul seperti diare, disentri dan serangan nyamuk penyebab malaria dan demam berdarah. Lagi-lagi kita dihadapkan pada persoalan yang cukup besar jika beberapa penyakit yang mewabah di musim hujan ini menyerang. Pertanda itu sudah tampak ditandai dengan banyaknya pasien penyakit endemis itu di beberapa rumah sakit.(*wartawan di harian Equator Pontianak)


0 Comments:
Post a Comment
<< Home