jurnalis kalimantan barat

Fakta adalah kesucian yang tak bisa dibohongi. Mengungkap fakta sebagai sebuah keharusan terkadang memerlukan pengorbanan meskipun mendapat resiko cukup besar. Ini hanya sekedar buah pikiran yang mungkin dapat bermanfaat.

Sunday, December 03, 2006

AIDS Bukan Penyakit?

Oleh: R. Rido Ibnu Syahrie

Sebuah fakta yang tak terbantahkan, penyebaran human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) menunjukan grafik meningkat. Fenomena gunung es yang menggambarkan penyebarannya mengasumsikan serangan virus tersebut semakin hari akan semakin bertambah.
Hari ini, Jumat (1/12) seluruh dunia memperingati hari AIDS. Peringatan itu tentunya bukanlah sebuah perayaan tetapi lebih pada momentum untuk mengingatkan dan mewanti-wanti agar penyebaran HIV/AIDS tidak melaju cepat. Paling tidak dapat diperkecil dengan cara menghindarkan diri dari pola hidup dan prilaku yang menjadi penyebab utama.
Selama ini telah sering didengar kampanye agar terhindar dari AIDS berikut penjelasan soal bagaimana virus mematikan itu menggerogoti kekebalan tubuh manusia. Masyarakat juga sudah sering dijejali informasi penularannya, namun benarkan AIDS itu penyakit?
Teringat perkataan seorang dokter umum di Kota Singkawang dr Emir Elmaswan saat bersama Equator ngalor ngidul membicarakan seluk beluk HIV/AIDS. Ia sangat tidak yakin HIV/AIDS dapat diberantas atau penyebarannya dihentikan. Alasannya sangat sederhana sebab AIDS bukanlah penyakit tetapi perilaku. Dalam pemikiran dokter lulusan Universitas Sumatera Utara (USU) itu, AIDS tak akan muncul jika prilaku dapat dijaga sebab kemunculannya juga diawali dengan prilaku sepanjang manusia hidup. Tak jauh beda dengan sphilis atau raja singa (gonorhoe).
Kampanye AIDS selama ini harus segera dirobah dengan pendekatan dan paradigma merobah pola dan sikap hidup manusia. Pun demikian, tetap saja AIDS adalah penyakit yang lebih banyak disebabkan prilaku menyimpang manusia. Sejak jaman Nabi Luth telah ditemukan perilaku menyimpang manusia dimana laki-laki menyukai jenisnya sendiri, hanya saja saat itu belum ada istilah homo namun (mungkin) telah ada penyakit akibat intim dengan sesama jenis itu.
Seiring roda jaman, penyakit tersebut mengalami perkembangan penularan dengan cara seks yang tidak aman. Termasuk dengan lain jenis misalnya keintiman dengan pekerja seks komersial (PSK) yang telah tertular AIDS, penggunaan jarum suntik atau alat-alat penusuk seperti tato, tindik, dan cukur yang tercemar HIV.
Juga transfusi darah atau produk darah yang mengandung HIV, ibu hamil pengidap HIV kepada janin atau bayinya dan pecandu narkoba jenis suntik. Fenomena gunung es pun tetap berlaku sebab penyakit itu merambah segmentasi sangat luas hingga kepada keluarga seperti ibu-ibu yang melahirkan bayi dan bayi-bayi yang dilahirkan dari orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Sejarah diketahuinya Virus HIV secara ilmiah pada 1983 oleh Lug Montaigneur, seorang ahli mikrobiologi Prancis. Setahun kemudian, mikrobiolog Amerika Serikat, Robert Gallo mengumumkan penemuan yang sama. Di Indonesia, penemuan kasus HIV/AIDS bermula pada 1987 ketika seorang turis asal Belanda, Edward Hop berusia 44 tahun meninggal di Rumah Sakit Sanglah Bali. Belakangan diketahui turis itu meninggal akibat AIDS. Setelah itu mulailah diketahui banyak penderita penyakit mengerikan itu.
Di Kalbar, penderita gejala penyakit yang timbul akibat menurunnya kekebalan tubuh ini sudah semakin menjamur pada 2006. Yang diketahui saja misalnya pada Pebruari lalu, dua penghuni lokalisasi Merano terkena HIV/AIDS berdasarkan hasil pengambilan sampel darah. Ak, warga Kapuas Hulu bersama istrinya, T warga Sekadau dan bayinya, Js dinyatakan positif mengidap virus HIV/AIDS dari hasil pemeriksaan Dinkes Kalbar dan RSUP dr Soedarso Pontianak.
Kemudian warga Malaysia penghuni Rutan Sei Raya Dalam, TYC, meninggal dunia di RSUD Soedarso, Selasa (31/10), tim medis memprediksikan korban adalah suspect HIV/AIDS. Masih banyak lagi korban berjatuhan namun tak banyak dipublikasikan karena sifatnya rahasia seperti arahan dari organisasi kesehatan dunia (WHO) demi menghindari diskriminasi bagi para penderitanya.
Hal itu ada sisi negatif dan positifnya. Para penderita dapat terhindar dari pengucilan dalam kehidupan bermasyarakat, namun sisi buruknya jika tidak diketahui justeru dapat mempercepat penularan ke individu lainnya. Kecuali pemerintah dan organisasi yang concern dengan HIV/AIDS dapat mengawasi terus dalam setiap detiknya. Tetapi itu mustahil, karena perilaku manusia tak dapat secara detil diawasi setiap saat. Sangat mustahil lagi jika para pengidap harus dikarantina atau diisolir karena akan berhadapan dengan pelanggaran HAM. Rasanya tak perlu muncul ketakutan berlebihan dengan para penderita. Terpenting, memulai dari diri sendiri untuk berprilaku positif.***

0 Comments:

Post a Comment

<< Home