jurnalis kalimantan barat

Fakta adalah kesucian yang tak bisa dibohongi. Mengungkap fakta sebagai sebuah keharusan terkadang memerlukan pengorbanan meskipun mendapat resiko cukup besar. Ini hanya sekedar buah pikiran yang mungkin dapat bermanfaat.

Sunday, December 03, 2006

Untuk Apa Senpi Itu?

Oleh: R. Rido Ibnu Syahrie

Akan muncul kengerian luar biasa apabila penggunaan senjata api (Senpi) sudah tak terkontrol lagi. Senpi ditangan petugas atau aparat dapat membantu dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Bagi polisi, kebanyakan senpi didesain hanya untuk melumpuhkan lawan berkaitan dengan tugas Kamtibmas.
Meski semua Senpi lazimnya dapat mematikan namun dalam hal penggunaan akan sangat berbeda dengan Senpi yang biasa digunakan TNI. Mayoritas senjatanya memang reaktif hingga dapat mematikan sasaran maupun objek tembaknya. Sangat wajar sebab TNI penjaga kedaulatan negeri ini, siapapun yang mencoba merusak keutuhan NKRI maka lebih dahulu harus berhadapan dengan TNI.
Namun apa jadinya kalau Senpi (ilegal) ternyata dimiliki oleh warga sipil seperti halnya di daerah-daerah rawan konflik sosial. Kalbar pernah mengalami pengalaman traumatis saat dilanda kerusuhan sosial yang terakhir meletus cukup besar pada 1997. Penggunaan senpi kala itu sudah tidak lagi terkontrol karena begitu mudahnya warga sipil merakit atau memproduksi sendiri. Dalam skala besar juga ditemukan home industry senpi ilegal.
Era konflik di Kalbar kini sudah lewat, upaya kepolisian dan TNI yang mengimbau persuasif kepada warga untuk menyerahkan senpi telah sering dilakukan namun bukan berarti dapat menjamin senpi ilegal menghilang. Buktinya dari beberapa kasus tindak kriminal masih banyak ditemukan pelakunya menggunakan senpi—rata-rata jenis senpi genggam—yang menyerupai colt pistol dan FN. Beberapa diantaranya senapan laras panjang yang biasa disebut senapan lantak untuk berburu tetapi tidak ditemukan penggunaannya untuk kejahatan di kota-kota.
Senpi sangat gampang ditiru, benda yang dapat melepaskan proyektil dengan dorongan gas propelan berkecepatan tinggi itu sudah bukan barang langka lagi. Dengan bahan baku selongsong besi maupun cetakan, para perakit senpi ilegal juga dapat membuat senjata mendekati kemiripan dengan produsen senjata aslinya.
Terungkapnya ‘pabrik’ senjata api rakitan di Desa Galang, Sungai Pinyuh, Rabu (29/11) cukup mencengangkan. Betapa tidak, bukan saja senpi jenis genggam yang ditemukan, tetapi juga jenis revolver dan senjata bahu kaliber 9 milimeter yang lazimnya digunakan untuk ‘perang’ terbuka. Sangat sedikit sekali tindak kejahatan di kota-kota seperti penodongan dan perampokan yang menggunakan jenis senpi revolver dan bahu.
Lima buah senpi yang berhasil digerebek Tim Resintel Gegana Polda Kalbar itu sebetulnya akan digunakan untuk apa oleh para tersangkanya? Masih menjadi pertanyaan besar yang dapat dikorek dari tersangka Bd, 46, dan Is, 63, purnawirawan TNI AD. Apakah mereka masuk dalam sindikat peredaran senpi ilegal dalam jumlah besar? Jika demikian, kemana saja mereka menjualnya dan apakah sudah luas jaringannya? Serta sederet pertanyaan lain lagi yang perlu jawaban untuk mengungkap modus operandi kejahatan para tersangka. Dalih sementara tersangka untuk aksi curas, masih dapat dikembangkan tak hanya mentok sampai disitu. Apalagi turut ditemukan juga tiga buah magazine dan 17 buah amunisi berlabel PT Pindad—perusahaan resmi produsen senjata api— di Indonesia.
Tak lama setelah terbongkarnya kasus senpi ilegal itu, Kota Pontianak juga dikejutkan dengan aksi kejahatan disiang hari yang lima pelakunya menggunakan senjata api genggam. Sasarannya toko Mas di Jalan Panglima Aim Pasar Seruni. Dengan kejadian tersebut, patut diwaspadai peredaran senpi ternyata sudah menyentuh pada tahap mengkhawatirkan karena menjadi ancaman serius dalam Kamtibmas.
Disatu sisi, pengungkapan produsen senpi ilegal itu ibarat kado yang dipersembahkan bagi Kapolda yang baru saja bertugas di Kalbar. Baginya, penanganan soal ini sudah cukup matang lantaran Kapolda Kalbar yang sekarang pernah lama berdinas di daerah konflik yakni Poso. Dilain sisi, harapan besar tentu saja Kalbar tidak bernasib sama dengan Poso meskipun daerah ini pernah dirundung konflik yang spektrumnya meluas hingga menjadi sorotan dunia internasional.
Kita sangat khawatir sekali dengan trend kejahatan menggunakan senpi sebab bisa saja meluas pada kasus lain yang besar. Kalbar harus tetap mempertahankan suasana kondusifnya sebab jika tidak maka para investor pun akan mikir dua kali menanamkan modalnya di Kalbar kalau tak aman. Hanya investor gila saja yang berani berinvestasi di daerah konflik atau daerah tak aman dengan status garis merah. Bagaimanapun kedua kasus ini, produsen senpi ilegal dan perampokan bersenpi, tak boleh dianggap remeh. Polda mesti secepatnya mengungkap tuntas demi jaminan keamanan masyarakat.***

0 Comments:

Post a Comment

<< Home