jurnalis kalimantan barat

Fakta adalah kesucian yang tak bisa dibohongi. Mengungkap fakta sebagai sebuah keharusan terkadang memerlukan pengorbanan meskipun mendapat resiko cukup besar. Ini hanya sekedar buah pikiran yang mungkin dapat bermanfaat.

Friday, July 10, 2009


Fenomena Alam dan Kiamat


Siapa pun tak ada yang tahu kapan kiamat terjadi. Namun gejala-gejala kiamat atau hancurnya bumi dan alam semesta dapat diketahui. Umur bumi saat ini diperkirakan 4,5 miliar tahun. Sebuah umur yang cukup renta dan telah banyak kerusakan di darat, laut dan udara akibat ulah manusia.

Umur bumi itu diperkirakan sejak ditemukannya materi radioaktif. Bumi berotasi dari barat ke timur dengan periode 23 jam 56 menit. Akibatnya benda-benda langit beredar semu dari timur ke barat. Bumi juga berevolusi mengelilingi matahari dengan periode 365,3 hari.

Rotasi dan revolusi bumi itu terus menerus selama bermiliar-miliar tahun. Logikanya, sebuah benda yang berputar pada porosnya saja akan bergeser dan aus. Demikian pula bumi. Belum lagi diperparah oleh kerusakan dimana-mana antara lain efek rumah kaca (pemanasan global), menipisnya ozon, keluarnya semburan-semburan gas dari perut bumi, penghancuran habitat laut oleh aksi penangkapan ikan, gundulnya hutan akibat illegal logging, illegal mining, pembakaran lahan dan lain-lain.

Dalam tiga tahun terakhir ini saja, begitu banyak bencana alam. Semburan gas berlumpur Lapindo Jawa Timur makin meluas, disusul semburan serupa di Carenang Provinsi Banten. Kecelakaan transportasi udara akibat faktor cuaca juga semakin banyak. BMG pun sering kesulitan memprediksi cuaca.

Pada bulan ini saja, biasanya musim kemarau. Namun kenyataannya hujan (Equator, 11/7/2009). Musim sudah tak bisa diperkirakan lagi dan berpengaruh kepada pola musim tanam bagi petani. Apakah ini tanda-tanda alam untuk memperingatkan manusia? Bisa jadi iya. Apalagi alam tak dijadikan sahabat karena sering dirusak.

Dengan mengatasnamakan ‘memanfaatkan alam’ untuk kebutuhan manusia, namun sering eksplorasi berlebihan dan tak bertanggung jawab. Pembangunan yang berwawasan lingkungan dengan pola sustainable development diabaikan. Kita memang tak boleh pasrah melihat kondisi bumi yang telah renta ini. Mulailah menjadikan bumi ini sebagai sahabat dan berharap es di kutub utara dan selatan tidak segera mencair. Save our planet, demi anak cucu.***

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home