Opera Sabun Kota Amoy
Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari kasus perselingkuhan Walikota Singkawang Drs Awang Ishak Msi dengan Anita Tjung (Ai-An). Ragam intrik dibalik peristiwa yang berawal dari kisah kasih asmara itu telah begitu menyita perhatian banyak orang dengan menyisakan catatan panjang yang tak mudah dilupakan.
Singkawang pun dalam seketika bertambah menjadi kesohor akibat perselingkuhan itu, walaupun sejak awal kota berjuluk kota amoy itu memang sudah terkenal. Ibarat sebuah lakon dalam drama, tentu akan menemukan akhir cerita sebab rentetan peristiwa telah terlanjur dipaparkan secara runut tanpa ada yang tertinggal. Semua itu lantaran ‘sang aktor’ adalah publik figur yang sedang mengendalikan sebuah pemerintahan dan kekuasaan. Akibatnya Ai secara langsung harus berhadapan dengan berbagai macam tuntutan, terlebih publik semakin cerdas dalam meneropong sepak terjang pemimpin (kepala daerah).
Karena menyangkut publik dan kepala daerah itulah maka DPRD Singkawang sebagai representasi dari masyarakat memiliki peranan penting sekaligus sebagai lembaga kontrol. Sejarah emas ditorehkan institusi tersebut yang berani menuntaskan permasalah sesuai tugas pokok dan fungsi hingga dikirimnya hasil kerja Pansus dewan ke Mahkamah Agung.
Seperti pada awal kasus –yang juga dikenal dengan sebutan Mercure Gate dengan setting sebuah hotel di Jakarta tempat pengambilan adegan mesra Ai-An— dipenuhi dengan pertentangan karena adanya usaha pembelaan dari diri Ai. Berbagai cara ditempuh untuk membelokkan masalah yang sebetulnya dapat cepat diselesaikan karena delik hukumnya sudah jelas. Bisa dibawa ke perzinahan, abortus, pelanggaran sumpah jabatan atau ternodainya etika dan nilai-nilai luhur budaya oleh seorang pemimpin.
Upaya pembelaan dengan serta merta menimbulkan high cost yang bukan saja dinilai secara nominal melainkan juga social cost karena begitu banyak warga yang harus dilibatkan guna mengaburkan masalah. Seolah-olah warga mempertahankan kepemimpinan walikota karena ada kelompok yang hendak mengkudeta atau makar. Padahal urgensinya bukan itu! Sehingga sangat wajar jika ada pihak yang akhirnya sadar merasa diperdaya dan dikotak-kotakkan.
Sejak episode pertama kasus Ai-An tak terlihat peran-peran antagonis yang muncul, namun pada babak selanjutnya ‘orang-orang disekitar kekuasaan’ mulai menyulap drama percintaan dengan balutan ‘telenovela’ alias opera sabun. Tak ayal, semakin digosok maka akan semakin berbusa dan tambah ramai diperbincangkan! Semakin panjang kisah juga akan berdampak pada berapa banyak budget yang harus dikeluarkan Ai. Jangan-jangan lilitan dugaan korupsi juga akan menyusul menjadi masalah baru yang sangat serius.
Kini, telenovela Mercure Gate sudah akan memasuki episode terakhir seiring masuknya laporan hasil Pansus ke MA. Pun demikian ‘sabun’ masih saja digosok. Terbukti dengan demonstrasi yang agak nakal mengusik legalitas para wakil rakyat. Sesekali diselingi dengan adegan sedikit menegangkan dengan aksi pelemparan rumah anggota dewan. Belum lagi sekarang beberapa pengacara yang siap menjadi bumper kendati alasan yuridis semakin tertutup untuk diterima karena jika sudah putusan MA (dalam kasus tersebut) bersifat final alias incraht. Bisa jadi para pengacara dan korlap demonstrasi yang mencaci maki dewan akan menjadi tumbal sebab telah dilaporkan ke Polres Singkawang.
Ada beberapa pilihan bagi Singkawang: Apakah telenovela akan happy ending dengan terlihatnya yang hak dan yang bathil? Ataukah busa sabun akan semakin berbuih? Sehingga ada tambahan episode dari telenovela tersebut. Yang pasti, pelajaran berharga telah didapat warga Singkawang tentang sosok kepemimpinan ideal yang bagaimana yang layak memimpin. Pelajaran lainnya, publik diajak menyelami arti hubungan antara pemerintahan-politik-hukum dan moral.***
Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari kasus perselingkuhan Walikota Singkawang Drs Awang Ishak Msi dengan Anita Tjung (Ai-An). Ragam intrik dibalik peristiwa yang berawal dari kisah kasih asmara itu telah begitu menyita perhatian banyak orang dengan menyisakan catatan panjang yang tak mudah dilupakan.
Singkawang pun dalam seketika bertambah menjadi kesohor akibat perselingkuhan itu, walaupun sejak awal kota berjuluk kota amoy itu memang sudah terkenal. Ibarat sebuah lakon dalam drama, tentu akan menemukan akhir cerita sebab rentetan peristiwa telah terlanjur dipaparkan secara runut tanpa ada yang tertinggal. Semua itu lantaran ‘sang aktor’ adalah publik figur yang sedang mengendalikan sebuah pemerintahan dan kekuasaan. Akibatnya Ai secara langsung harus berhadapan dengan berbagai macam tuntutan, terlebih publik semakin cerdas dalam meneropong sepak terjang pemimpin (kepala daerah).
Karena menyangkut publik dan kepala daerah itulah maka DPRD Singkawang sebagai representasi dari masyarakat memiliki peranan penting sekaligus sebagai lembaga kontrol. Sejarah emas ditorehkan institusi tersebut yang berani menuntaskan permasalah sesuai tugas pokok dan fungsi hingga dikirimnya hasil kerja Pansus dewan ke Mahkamah Agung.
Seperti pada awal kasus –yang juga dikenal dengan sebutan Mercure Gate dengan setting sebuah hotel di Jakarta tempat pengambilan adegan mesra Ai-An— dipenuhi dengan pertentangan karena adanya usaha pembelaan dari diri Ai. Berbagai cara ditempuh untuk membelokkan masalah yang sebetulnya dapat cepat diselesaikan karena delik hukumnya sudah jelas. Bisa dibawa ke perzinahan, abortus, pelanggaran sumpah jabatan atau ternodainya etika dan nilai-nilai luhur budaya oleh seorang pemimpin.
Upaya pembelaan dengan serta merta menimbulkan high cost yang bukan saja dinilai secara nominal melainkan juga social cost karena begitu banyak warga yang harus dilibatkan guna mengaburkan masalah. Seolah-olah warga mempertahankan kepemimpinan walikota karena ada kelompok yang hendak mengkudeta atau makar. Padahal urgensinya bukan itu! Sehingga sangat wajar jika ada pihak yang akhirnya sadar merasa diperdaya dan dikotak-kotakkan.
Sejak episode pertama kasus Ai-An tak terlihat peran-peran antagonis yang muncul, namun pada babak selanjutnya ‘orang-orang disekitar kekuasaan’ mulai menyulap drama percintaan dengan balutan ‘telenovela’ alias opera sabun. Tak ayal, semakin digosok maka akan semakin berbusa dan tambah ramai diperbincangkan! Semakin panjang kisah juga akan berdampak pada berapa banyak budget yang harus dikeluarkan Ai. Jangan-jangan lilitan dugaan korupsi juga akan menyusul menjadi masalah baru yang sangat serius.
Kini, telenovela Mercure Gate sudah akan memasuki episode terakhir seiring masuknya laporan hasil Pansus ke MA. Pun demikian ‘sabun’ masih saja digosok. Terbukti dengan demonstrasi yang agak nakal mengusik legalitas para wakil rakyat. Sesekali diselingi dengan adegan sedikit menegangkan dengan aksi pelemparan rumah anggota dewan. Belum lagi sekarang beberapa pengacara yang siap menjadi bumper kendati alasan yuridis semakin tertutup untuk diterima karena jika sudah putusan MA (dalam kasus tersebut) bersifat final alias incraht. Bisa jadi para pengacara dan korlap demonstrasi yang mencaci maki dewan akan menjadi tumbal sebab telah dilaporkan ke Polres Singkawang.
Ada beberapa pilihan bagi Singkawang: Apakah telenovela akan happy ending dengan terlihatnya yang hak dan yang bathil? Ataukah busa sabun akan semakin berbuih? Sehingga ada tambahan episode dari telenovela tersebut. Yang pasti, pelajaran berharga telah didapat warga Singkawang tentang sosok kepemimpinan ideal yang bagaimana yang layak memimpin. Pelajaran lainnya, publik diajak menyelami arti hubungan antara pemerintahan-politik-hukum dan moral.***


0 Comments:
Post a Comment
<< Home