Seks pranikah menjamur. Janin korban aborsi berguguran. Hantaman teknologi mengumbar syahwat. Program Kespro digugat?
Pemaparan kesehatan reproduksi (Kespro) terkesan ilmiah dan diyakini dapat membendung aktivitas seks bebas. Namun fakta menyebutkan sosialisasi Kespro berpotensi menjerumuskan kaum remaja kepada liberalisasi seks.
“Sosialisasi Kespro sama saja menyuruh remaja melakukan seks bebas,” tegas anggota Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), DR Rini MSi ketika menyampaikan materi pada seminar Kesehatan Reproduksi Remaja, Minggu (12/7) di Aula Kampus Universitas Muhammadiyah Pontianak.
Seminar dengan tema Kespro versi International Conference Population Development (ICPD) versus Kespro Islam itu diprakarsai Muslimah HTI. Puluhan peserta seminar yang semuanya Muslimah hanyut dalam perdebatan seputar manfaat dan mudarat Kespro versi ICPD.
Dijelaskan Rini, sejak Indonesia meratifikasi hasil ICPD tahun 1994, banyak terlihat kegagalan Kespro dalam mengatasi masalah seks bebas di kalangan remaja. “Pelaksanaan hasil konferensi Kairo itu justru membawa banyak dampak negatif bagi remaja,” tegasnya.
Jika ditinjau dari data survey Komisi Nasional Perlindungan Anak (KNPA) tahun 2008 di 33 Provinsi Indonesia, apa yang diungkapkan Rini itu sangat masuk akal. Selama 14 tahun atau bersamaan dengan diberlakukannya hasil ICPD, pelaku seks bebas di kalangan remaja (usia 10-19 tahun) mencapai 26,23 juta atau meningkat sebesar 32,7 hingga 52,7 persen dari data tahun 1994.
Fakta lain tak kalah miris dari hasil survey KNPA menyebutkan 97 persen remaja usia SMP dan SMA pernah menonton film porno. Dari jumlah tersebut, 93,7 persen di antaranya pernah berciuman, melakukan simulasi genital dan oral seks.
“Sekitar 25 persen atau 7 juta remaja yang melakukan seks pranikah ini mengakhiri nyawa janinnya di meja aborsi. Jika dibandingkan tahun 2002, angka ini meningkat lebih dari 50 persen,” ujar Rini sembari mengatakan bahwa para remaja tersebut rentan terinfeksi penyakit menular seksual.
Menurut wanita berjilbab itu, peningkatan jumlah remaja pelaku seks bebas ini tak terlepas dari pengetahuan seksualitas dan kesehatan reproduksi yang didapat melalui sosialisasi Kespro versi ICPD. Para remaja dijelaskan tentang alat kelamin, kehamilan dan cara pencegahan kehamilan tak diinginkan, aborsi aman, homo dan lesbi yang seolah-oleh dilegalkan.
“Sekilas dalam pemaparannya, mungkin terkesan ilmiah. Namun bila dicermati, isi dan ilustrasi yang diberikan tidak berbeda dengan tayangan porno yang jauh dari kata pantas dan layak dijelaskan kepada remaja SMP, SMA maupun remaja yang belum menikah. Sebab, sebagai manusia yang normal, bisa saja setelah mendapat penjelas itu akan terbentuk persepsi seksual yang merupakan stimulator munculnya keinginan seksual,” sesal Rini.
Bersamaan dengan itu, lanjut Rini, remaja dicekoki berbagai fakta yang mengotori benaknya dengan persepsi seksual yang membangkitkan nafsu syahwat. Remaja tidak lagi sulit menemukan perempuan berpakaian seksi, adegan mesum di angkutan umum dan tempat-tempat umum, buku, video game, hand phone, acara TV hingga internet.
“Arus pembangkitan syahwat itu sangat deras mengotori negeri ini. Associated Press bahkan menobatkan Indonesia sebagai negara terporno kedua di dunia setelah Rusia,” tandasnya.
Tak habis di situ, pemaparan Kespro versi ICPD ini juga sering dilandasi dengan paham kebebasan. Maksudnya setiap individu memiliki kendali terhadap organ vitalnya, melalui pilihan yang dipahami. Termasuk melakukan hubungan seks yang seolah-oleh dibungkus dengan kemasan bertanggung jawab.
“Parahnya lagi, persepsi tentang aborsi juga dikaburkan. Aborsi sering dibedakan dengan aborsi yang aman dan tidak aman. Padahal, tidak ada aborsi aman. Rahim seorang ibu laksana sutra yang sangat halus dan mudah rusak. Jadi jangan pernah memaksa cabang bayi untuk keluar. Biarkan cabang bayi itu melorot dengan sendirinya,” ingat Rini.
Dijelaskannya, Kespro versi ICPD ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam. “Islam tidak mengenal kata pacaran, apalagi mojok atau sebagainya. Kalau memang sudah ingin berduaan, langsung kawin saja,” sarannya.
Berbeda dengan Rini. Pemateri dari Badan Pemberdayaan Perempuan Kota Pontianak, Dr Darmanelly MKes justru menyarankan agar anak-anak balita sudah harus diajarkan mengenali organ seksual mereka.
Menurut Nelly, pengetahuan tentang organ seks sejak dini sangat dibutuhkan bagi personal anak saat dewasa kelak. “Minimal remaja akan mengerti ada masa haid. Sehingga darah haid tidak dimainakannya atau berceceran ke mana-mana,” katanya.
Pemerhati remaja, Shabrina Karimah SPd mengatakan, kerusakan terhadap mental generasi muda dipengaruhi oleh tiga faktor. Yakni faktor individu, faktor masyarakat serta faktor negara.
“Faktor invividu adalah kerusakan mental karena personal. Faktor masyarakat adalah kerusakan mental remaja karena lingkungan tempat tinggal. Sementara faktor negara adalah kerusakan mental generasi mudah karena pemerintah kurang tegas mengawasi segala hal yang berbau pornografi,” singkatnya. (bdu)
Equator, 13 Juli 2009
Labels: reproduksi


0 Comments:
Post a Comment
<< Home