Kutu Loncat yang Sakit Hati
Oleh: R. Rido Ibnu Syahrie
Cukup mengasyikan mengamati sepak terjang para politisi saat bermain-main dengan manuver politiknya masing-masing. Suguhan menarik baru saja tersaji dari salahseorang fungsionaris parpol yang berpindah haluan. Buntutnya mengharuskan dua parpol di Kalbar yakni Partai Golkar (PG) dan Partai Demokrat (PD) mengambil sikap.
Rekrutmen maupun pengkaderan sebuah parpol tak terlepas dari tujuan utama untuk membesarkan dan mempertahankan kelangsungan partai. Target memperoleh suara dalam Pemilu atau mengantarkan pasangan calon pada Pilkada hanyalah sasaran antara saja, sebab terkadang ada tujuan lain dibalik itu semua.
Pada pelantikan pengurus DPD PD Kalbar, menyisakan seteru yang dipicu munculnya nama Drs H Ria Nursan SH sebagai pengurus harian dengan jabatan Wakil Bendahara I PD Kalbar. Padahal yang bersangkutan masih resmi menempati posisi Wakil Ketua I DPD PG Kabupaten Pontianak.
Paling kebakaran jenggot dalam hal ini dari kubu PG yang langsung menuding PD tak memiliki etika politik karena asal comot untuk memenuhi susunan kepengurusan. Melalui ketua DPD PG Kabupaten Pontianak juga keluar klaim soal banyaknya kader PG diambil oleh partai baru. Disini jelas terjadi arogansi PG terhadap PD yang memang terbilang parpol baru tetapi berhasil mengantarkan orang terbaiknya menjadi RI-1.
Bagi siapapun, PG memang sudah dianggap partai gaek dan tak bisa dipisahkan dari historis Golkar –parpol peninggalan jaman tempo dulu— yang kemudian ber-paradigma baru. Pohon beringinnya telah mengurat akar dan sangat sulit tercerabut, sangat wajar jika masuk sebagai partai dominan meskipun tak lagi menjadi kekuatan tunggal. Tetapi jangan salah, PD juga parpol yang mulai memiliki tempat di hati masyarakat dan konstituennya. Usia partai boleh muda tetapi sepak terjang politik sangat diperhitungkan lawan-lawan politik lainnya.
Keunggulan kedua parpol tersebut secara umum menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat hingga harus menentukan pilihan apakah masuk ke PG atau PD. Demikian halnya bagi simpatisan, kader maupun pengurusnya mulai dari tingkat pusat, wilayah, daerah hingga ke ranting-ranting di kecamatan dan desa boleh jadi berpindah selera.
Pada peristiwa kepindahan H Ria Nursan ke PD mungkin saja dipengaruhi oleh selera tersebut. Mungkin pula yang bersangkutan menganggap parpol yang lama tidak lagi kondusif karena tidak terakomodir kepentingannya untuk berkarir di jalur politik. Anggapan banyak orang, pasti akan mencap Nursan sebagai ‘kutu loncat’ yang sakit hati.
Tak selamanya kutu loncat itu berkonotasi negatif karena siapa tahu yang bersangkutan sudah gerah atau bahkan tak klop lagi dengan aturan main di parpol yang hendak ditinggalkannya. Indikatornya sederhana saja, apakah Nursan cukup akur dengan unsur pimpinan PG Kabupaten Pontianak?
Yang jelas, Nursan kini tengah diperebutkan dua parpol dengan kans besar meskipun sementara ini belum ada kejelasan sikap dari PG untuk merelakan kepindahan Nursan. Dari DPD PD Kalbar menanggapi hal ini cukup diplomatis dan tak kehabisan akal. Ketua DPD PD Henri Usman memastikan nama yang bersangkutan telah dikirim ke DPP yang berarti status kepengurusannya legal. Itu sesuai aturan dan mekanisme partai demokrat.
Biasanya masing-masing pucuk pimpinan parpol di tingkat provinsi menggencarkan lobi dengan umpan posisi dalam struktur pengurus. Jangan heran jika pada awalnya hanya masalah satu orang pengurus, justeru akan merembet pada pertarungan nama baik parpol sebab parpol juga perlu menjaga imej. Tak terjaganya imej parpol, sedikit banyak akan berpengaruh pada aspek pencitraan dan kelangsungan parpol di masa mendatang.***
Oleh: R. Rido Ibnu Syahrie
Cukup mengasyikan mengamati sepak terjang para politisi saat bermain-main dengan manuver politiknya masing-masing. Suguhan menarik baru saja tersaji dari salahseorang fungsionaris parpol yang berpindah haluan. Buntutnya mengharuskan dua parpol di Kalbar yakni Partai Golkar (PG) dan Partai Demokrat (PD) mengambil sikap.
Rekrutmen maupun pengkaderan sebuah parpol tak terlepas dari tujuan utama untuk membesarkan dan mempertahankan kelangsungan partai. Target memperoleh suara dalam Pemilu atau mengantarkan pasangan calon pada Pilkada hanyalah sasaran antara saja, sebab terkadang ada tujuan lain dibalik itu semua.
Pada pelantikan pengurus DPD PD Kalbar, menyisakan seteru yang dipicu munculnya nama Drs H Ria Nursan SH sebagai pengurus harian dengan jabatan Wakil Bendahara I PD Kalbar. Padahal yang bersangkutan masih resmi menempati posisi Wakil Ketua I DPD PG Kabupaten Pontianak.
Paling kebakaran jenggot dalam hal ini dari kubu PG yang langsung menuding PD tak memiliki etika politik karena asal comot untuk memenuhi susunan kepengurusan. Melalui ketua DPD PG Kabupaten Pontianak juga keluar klaim soal banyaknya kader PG diambil oleh partai baru. Disini jelas terjadi arogansi PG terhadap PD yang memang terbilang parpol baru tetapi berhasil mengantarkan orang terbaiknya menjadi RI-1.
Bagi siapapun, PG memang sudah dianggap partai gaek dan tak bisa dipisahkan dari historis Golkar –parpol peninggalan jaman tempo dulu— yang kemudian ber-paradigma baru. Pohon beringinnya telah mengurat akar dan sangat sulit tercerabut, sangat wajar jika masuk sebagai partai dominan meskipun tak lagi menjadi kekuatan tunggal. Tetapi jangan salah, PD juga parpol yang mulai memiliki tempat di hati masyarakat dan konstituennya. Usia partai boleh muda tetapi sepak terjang politik sangat diperhitungkan lawan-lawan politik lainnya.
Keunggulan kedua parpol tersebut secara umum menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat hingga harus menentukan pilihan apakah masuk ke PG atau PD. Demikian halnya bagi simpatisan, kader maupun pengurusnya mulai dari tingkat pusat, wilayah, daerah hingga ke ranting-ranting di kecamatan dan desa boleh jadi berpindah selera.
Pada peristiwa kepindahan H Ria Nursan ke PD mungkin saja dipengaruhi oleh selera tersebut. Mungkin pula yang bersangkutan menganggap parpol yang lama tidak lagi kondusif karena tidak terakomodir kepentingannya untuk berkarir di jalur politik. Anggapan banyak orang, pasti akan mencap Nursan sebagai ‘kutu loncat’ yang sakit hati.
Tak selamanya kutu loncat itu berkonotasi negatif karena siapa tahu yang bersangkutan sudah gerah atau bahkan tak klop lagi dengan aturan main di parpol yang hendak ditinggalkannya. Indikatornya sederhana saja, apakah Nursan cukup akur dengan unsur pimpinan PG Kabupaten Pontianak?
Yang jelas, Nursan kini tengah diperebutkan dua parpol dengan kans besar meskipun sementara ini belum ada kejelasan sikap dari PG untuk merelakan kepindahan Nursan. Dari DPD PD Kalbar menanggapi hal ini cukup diplomatis dan tak kehabisan akal. Ketua DPD PD Henri Usman memastikan nama yang bersangkutan telah dikirim ke DPP yang berarti status kepengurusannya legal. Itu sesuai aturan dan mekanisme partai demokrat.
Biasanya masing-masing pucuk pimpinan parpol di tingkat provinsi menggencarkan lobi dengan umpan posisi dalam struktur pengurus. Jangan heran jika pada awalnya hanya masalah satu orang pengurus, justeru akan merembet pada pertarungan nama baik parpol sebab parpol juga perlu menjaga imej. Tak terjaganya imej parpol, sedikit banyak akan berpengaruh pada aspek pencitraan dan kelangsungan parpol di masa mendatang.***


1 Comments:
At 9:28 AM,
R.Rido Ibnu Syahrie said…
Kutu loncat hanyalah istilah yang belum tentu konotasinya negatif. Sebutan ini biasa dipergunakan bagi politisi yang berpindah partai politik
Post a Comment
<< Home